Yang pertama harus dibenahi bukanlah kompetisi level senior sekelas LSI melainkan pembinaan pemain junior. Pembinaan pemain junior di negeriini masih jauh dari yang diharapkan, terbukti dengan banyaknya kegiatan suap menyuap di kalangan pengurus sepak bola. Masih sangat liar kita saksikan dalam sleksi pemain muda untuk binaan sebuah tim yang tidak berdasarkan pada skill dan kemamuan individu pemain tersebut, melainkan banyak pemain yang kemampuannya dibawah pemain lain tapi mampu masuk tim dengan memberikan uang pelicin pada pengurus, dengan istilah lain "si sukses adalah si kaya". Padahal bakat dan kemampuan pemain itu masih dibawah dari pemain yang ia sinkirkan dengan cara menyogok pengurus itu.Kejadian ini otomatis mengakibatkan tidak efektifnya proses embinaan pemain karena pemain yang dibina
bukanlahpemain yang benar-benar mampu mengangkat nama tim tersebut apalagi tim nasional. Di sisi lain kejadian seperti ini tentunya akan membuat pemain yang tersingkirkan itu akan patah semangat untuk terus mengasah kemampuannya. Bayangkan saja jika pemain yang menyogok itu setelah dibina dandilatih mampu bermain bagus bahkan sangat bagus, bagaimana dengan pemain yang bena-benar memiliki bakat dan kemampuan yang diatas dia yang dia singkirkan jika dibina juga? tentunya dia bisa bermain istimewa.
Saya menulis artikel ini bukan tanpa bukti dan hanya omong kosong. Saya sendiri sudah pernah mengalami hal ini sebanyak 2x pada sleksi pemain di KU-15 dan KU-17. Kejadian ini tentunya membuat semangat saya kendor untuk terus berlatih, karena sampai saat in Indonesia masih menerapkan prisip kuno yakn "uang adalah segalanya"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar